Liputan / Berita

08 September 2007
Pekan Komik dan Animasi Nasional ke-6 di kota Malang

Oleh : Beng Rahadian

Wisata Komunitas
Belum hilang keringat lelah ngurusin Konde, aku dah cabut ke Malang. Ikutan jadi peserta Pekan Komik & Animasi Nasional ke VI (PKAN), bawa bendera Akademi Samali dan Jagoan Comic. PKAN adalah acara dua tahunan yang diselenggarakan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, acara yang sangat ditunggu oleh sebagian besar komunitas komik dan mungkin juga animasi.

Jadilah aku berdua pergi sama Ari Wowo. Bukan nggak sengaja, kita mampir di Surabaya. Menjenguk studio komik Outline yang dikelola oleh Yudis dkk. Minggu Tgl 26, Jam 7 malam, setelah diantar taxi bandara kita sampai di sebuah sudut gang sempit tempat Yudis mengelola komunitasnya. Meskipun kecil dan berada ditengah pemukiman padat kampung Kendangsari, namun dari tempat inilah nyatanya studio Outline menjadi salah satu kantong budaya kaum muda di Surabaya, yang telah mendapat liputan dari beberapa media. Tidak lama setelah kami melepaskan penat disana, kawan-kawan dari Dewan Kesenian Surabaya dan beberapa komunitas komik berdatangan dan berdiskusi dengan hangatnya. Selain menjadi salah satu rantai jaringan komunitas di Surabaya, studio Outline pun menjadi sanggar komik bagi anak-anak penduduk setempat. Karya-karya hasil workshopnya dijual di warung kopi yang biasa dijadikan tempat berkumpulnya warga. Sebuah semangat dan kerja yang luar biasa

Nggak kerasa, setelah semua obrolan yang diselingi jamstrips dan kopi mocca bergelas-gelas, aku tidur dibelai angin Surabaya yang ternyata dingin juga. Hingga esok nya setelah mengantri mandi bersama warga, Aku, Ari, Yudis, Dimas dan Broky mulai meneruskan perjalanan menuju Malang menggunakan bis. Bis menuju Malang melewati kota mati yang "terbunuh" luapan lumpur. Pemandangan yang mengenaskan jika mengingat bahwa semua ini terjadi karena hilangnya rasa tanggung jawab dari para pengusaha.

Opening
Malang masih belum banyak berubah, tenang dan ayem. Namun di kota yang tenang inilah terselenggaranya event komik paling "hangat" sejauh ini, "Pekan Komik Indonesia" (PKI) yang pada bulan November nanti akan menginjak ke V kalinya. Setidaknya, meskipun berbasis kampus yang paling tidak dapat menggunakan fasilitas kampus, mereka bisa terus secara kontinyu menyelenggarakan event mandiri yang mampu menarik peserta dari berbagai kota. Menjadi event dengan iming-iming wisata bagi komunitas.

Lokasi acara PKAN diselenggarakan ditempat yang sama dengan PKI, yaitu Gedung Sasana Krida milik kampus Univ. Negeri Malang. Senin 27, Jam 11 siang kita sampai di lokasi yang masih ramai oleh para peserta yang masih mengerjakan display booth. Diantaranya Mujadi dan Anton peserta dari Solo, Studio Papillon Semarang, Nasiputih Jember, Studio Woh Jogja dan banyak lagi. Jelasnya mereka berkejaran dengan waktu pembukaan pada jam 7 malam nanti.

Akademi Samali yang mendapat booth berdampingan dengan Jagoan Comic memutuskan merger dan membongkar partisi serta mengumumkan nama baru yaitu Akademi Jagoan, yah.. emang rada-rada gimana.. gitu, tapi daripada pake nama "Jagoan Samali", nanti para preman yang nongkrong di depan warung bubur kacang ijo Jalan Samali pada protes, hehehe...

Malam saat pembukaan, aku memutuskan nongkrong di booth, karena yang pidato banyak banget dan kebanyakan mengulang-ngulang kalimat yang sama. Selain itu aku harus kordinasi minta tolong panitia menjemput Errie, anggota Akademi Samali yang dateng belakangan. Nggak nyangka, setelah acara dibuka, aliran pengunjung cukup deras. Sebagian yang berhenti di booth Akademi Jagoan, mengantri mengisi kesan dan pesan. Jelas mereka sampe ngantri karena kita iming-imingi bagi pengisi kesan pesan mendapatkan katalog Konde yang dicetak esklusif oleh Telkomsel dan freemagz Cergam edisi Konde yang gratisan itu. Hehehe....

Derasnya aliran pengunjung ternyata tidak berbanding lurus dengan transaksi penjualan yang masih dibawah seratus ribu. Hehehe masih ada empat hari kedepan. Berdo'a semoga besok ada kolektor. Malam yang cukup melelahkan itu, aku tutup dengan bobo manis di Wisma Unibraw yang disewa panitia untuk para peserta dari luar kota. Menitipkan mimpi pada bulan yang menjelang terang, menuju gerhana bulan yang kabarnya bulan akan menyinarkan sinarnya yang paling terang.

Wisata Kuliner
Ini yang paling menarik, Jawa Timur terkenal dengan rawon nya, dan rawon yang paling enak di malang adalah Rawon Depot Nguling. Lokasinya di sekitaran Pasar Gede, dekat pertokoan Mitra. Jika berkesempatan kesana, menu Rawon Dengkul bisa dicoba. Tapi porsinya yang banyak banget itu aku saranin satu mangkuk untuk dibagi 3 orang. Kecuali emang diantara kita ada yang nafsu makannya sebesar Kumbakarna atau Injun anak MKI, mungkin okelah satu porsi buat sendiri.

Masih disekitaran Pasar Gede, buat kita yang bosan dengan kopi olahan pabrik yang aromanya menggunakan essence, ada toko penjual kopi bubuk organik namanya Sido Mulyo. Kopi ini olahan industri rumahan, kopi-kopinya tidak bernama, namun kita bisa bilang minta kopi yang paling enak, maka dia akan menyodorkan kopi jenis arabika, yang setelah aku coba di Jakarta, rasanya enak. Bukan kopi rumahan biasa. Dan bagi yang seneng nyobain eksplorasi kopi, maka menu "Kopi Berontak" patut dicoba di warung2 kopi. Kopi berontak ini adalah kopi seduhan campuran madu, jahe dan telur. Bagi yang belum terbiasa, maka reaksi pertama adalah mual-mual dan perut serasa benar-benar "memberontak".

Namun dari semua ini, yang paling mengejutkan adalah informasi dari panitia yang mengatakan di Malang ada kedai bakso yang lebih enak dari Bakso Kota. Bagi saya sejak mengikuti acara PKI pertama thn 2000 lalu, Bakso Kota adalah bakso paling enak se-Indonesia (hehehe berlebihan ya?), akhirnya untuk membuktikan pernyataan panitia yang "gegabah" ini, maka aku dan Janang (Studio Woh Jogja) memburunya. Namanya Bakso Solo Dn'D. Setelah dicoba menu campur, memang kuahnya lebih enak dari Bakso Kota, namun setelah nyobain bakso nya, ternyata bisa menandingi Bakso Kota ya fifty-fifty lah, hanya kalau dibilang lebih enak sih, aku harus nyobain sekali lagi. Hehehe... kelebihannya bakso Dn'd tidak beraroma perisa yang biasanya menguap saat bakso terbelah.

Wacana
Barangkali hal inilah yang luput dari perhatianku selama mengikuti PKAN, selain karena aku kena masuk angin yang mengharuskan bedrest, tidak ada referensi sejenis katalog atau press release yang bisa dibaca mengenai konsep acara PKAN kali ini. Bahkan website/blog yang relatif murah dan mudah pun tidak ada. Yang jelas aku cukup kaget saat diminta mengisi diskusi mengenai 10 tahun komik Indonesia, menggantikan pembicara-pembicara berkompeten yang nggak bisa hadir (antara Mas Iwan Gunawan dan Andi Yudha Asfandiar). Meskipun konfirmasi aku terima sebelum ke Malang, namun tetep aja aku masih kikuk. Untungnya tema 10 tahun Komik Indonesia ini adalah isyu KONDE, jadi aku nyerocos aja sakainget (sunda; seingatnya).

Namun beberapa perkembangan patut dicatat di acara yang mendapat dana lumayan dari pemerintah ini, adalah presentasi dari Yudis sebagai komunitas yang berdomisili di Surabaya, dalam meminta dukungan untuk membuat gerakan memopulerkan komik lokal di Surabaya, salah satunya adalah upaya membentuk jaringan perpustakaan komik lokal berbasis komunitas dan swadaya yang baiknya tersebar diseluruh Indonesia. Kemudian dalam kesempatan lain disampaikan juga tentang program M-Comic (komik ponsel) yang kerjasamanya sedang dirintis antara Telkomsel dengan konikus yang diperantarai oleh KI.com, Splash dan Akademi Samali. Malam harinya, Janang dari studio Woh Jogja juga berkesempatan mempresentasikan gagasan cemerlangnya tentang penerbitan freemagz komik. Sebelnya semua ini berlangsung saat aku sedang bed rest. Jadi nggak bisa banyak cerita banyak nih.

Tapi aku sempet ngikutin jamstrips yang kayaknya sudah jadi demam di komunitas, meskipun sederhana (tanpa meja) kita semua semangat ngerjainnya. Beberapa perkembangan teknis jamstrips mulai diterapkan disini, seperti pembebasan tema dan inisiatif penggambar pertama. Kabarnya, hasil jamstrips ini akan juga diterbitkan dalam bentuk kompilasi, namun kabar itu aku dapat setelah mendarat dan beredar di Jakarta.

Hal yang agak mengecewakan adalah tidak terlaksananya acara diskusi tentang kontribusi Alm.Teguh Santosa dalam dunia komik Indonesia, yang rencananya akan disampaikan oleh puteranya Dani Valiandra, almarhum adalah notabene putera daerah yang selain karyanya sangat fenomenal, juga menjadi guru bagi masyarakat disekitar rumahnya dalam ilmu ngomik, kini di daerah Kepanjen, tempat tinggal almarhum, telah menjadi kampung komikus. Yang menyuplai komik-komik agama untuk anak2, seperti kisah-kisah nabi yang dijual di kaki lima sekolah-sekolah dasar dan pertama.

Namun secara jeneral, acara PKAN ini masih mneyimpan kharismanya sebagai ajang pertemuan komunitas. Malang yang dingin menjadi hangat oleh canda kawan-kawan yang terkumpul dari berbagai daerah, saling tukar komik-komik fotokopian baru dan informasi-informasi ringan sesama komunitas. Hal yang sering dianggap tidak penting oleh beberapa kalangan, namun rasanya mereka itulah yang telah menjadi penyangga keramaian khasanah komik Indonesia kini, dimana komik bukan hanya buku-buku yang berjajar di toko buku atau isinya yang menjadi bahan peredebatan tentang ke-Indonesiaan. Komik terutama dalam era satu dekade ini, telah berkembang menjadi lifestyle dan profesi yang isinya adalah manusia-manusia penuh kehangatan dan solidaritas. Manusia-manusia yang sedang berproses dalam pergulatan kreatif nya..

Sabtu, 29 Agustus, aku ninggalin Malang, transit di Surabaya. Menuju Jakarta, meneruskan pekerjaan-pekerjaan yang tertunda dan beberapa acara menyenangkan lainnya.

 


Home
| Karakter & Komik | Profil | Download | Visi & Misi | Liputan/Berita | Tulisan/Tutorial | Surat Pembaca
Komunitas
| Fans Club
| Ruang Pamer | Links
| Peta Situs | Kontak

All contents ™ and © Jagoan Comic, All Rights Reserved
webhosting by
mwn masterwebnet.com


Halaman Depan Karakter dan Komik Profil Liputan Berita Tulisan & Tutorial Komunitas Visi & Misi Download Peta Situs Kontak Surat Pembaca Links Fans Club Ruang Pamer