Liputan / Berita

Suara Pembaruan Dialy
http://www.suarapembaruan.com/News/2008/08/03/Utama/ut04.htm


Menanti Kelahiran Superhero Lokal


Di tengah dahsyatnya serangan superhero impor, ternyata ada gerilya dari animator Indonesia untuk menciptakan superhero lokal terkini. Banyak di antara mereka yang "pulang kampung" menggarap kisah-kisahnya sendiri.

Lebih dari satu dekade industri komik kita berguguran satu persatu, akibatnya superhero kita hilang dari peredaran. Puncaknya adalah ketika krisis moneter melanda negeri ini. Penggila komik harus mengencangkan koceknya demi kebutuhan yang lebih penting, sementara para penerbit pun berguguran satu persatu.

Media massa yang cukup memberi ruang untuk komik pun terpaksa membatasi ruangnya dengan alasan pengetatan halaman, padahal media massa adalah saluran tersisa bagi para penggemar komik untuk mendapatkan kebutuhannya.

Hilangnya komik di masyarakat kita terasa hingga kini. Di tengah serbuan karakter-karakter asing kita pun mempertanyakan di manakah karakter superhero Indonesia. Apalagi sebenarnya dunia gambar dan sosok kepahlawanan di Nusantara bukanlah sesuatu yang baru.

Dwi Koendoro, pencipta karakter Panji Koming di Harian Kompas pernah mengisahkan dunia gambar sudah sejak lama dikenal masyarakat Indonesia seperti wayang di budaya Jawa. Meski wayang utamanya adalah seni bertutur, sang dalang tidak bisa menolak kehadiran wayang.

Bahkan lebih jauh dari keberadaan wayang, budaya peradaban kuno di Nusantara telah mengenal seni bertutur lewat gambar. Lihat saja coretan-coretan gambar di Gua Leang-Leang Sulawesi Selatan. Ini jadi sebuah bukti seni berkisah lewat gambar sudah dikenal lama.

Di masa modern, kisah bergambar Indonesia memang tidak bisa lepas dari pengaruh perkembangan dari luar. Tapi setidaknya kita pernah memiliki kisah bergambar yang asli dari budaya lokal seperti Jaka Sembung atau Panji Tengkorak.

Komik di Indonesia mulai dikenal sejak tahun 1930-an. Surat kabar Sinpo menerbitkan komik strip Si Put On karya Kho Wang Gie. Komik strip ini mampu bertahan hingga 30 tahun lamanya, meskipun sempat istirahat selama penjajahan Jepang.


Inspirasi

Kho Wang Gie ternyata memberikan inspirasi bagi komikus Indonesia lainnya untuk berkarya. Pada dekade 50-an serbuan komik asing pun sudah masuk ke Indonesia seperti Flash Gordon, Superman, atau Tarzan. Genre superhero yang masuk ke Indonesia ini pun diadaptasi oleh sejumlah komikus lokal dengan menerbitkan beberapa karya seperti Sri Asih (RA Kosasih) dan Captain Indonesia (John Lo). Kisah ini nantinya diformat ulang jadi Kapten Indonesia oleh Armin Tanjung pada tahun 1980-an. Di tahun 1980-an juga hadir Kapten Halilintar oleh Jan Mintaraga, Kapten Nusantara oleh Mater dan Kapten Bandung.

Lalu ke di manakah sang superhero itu kini?

Perjalanan komik beserta superhero-nya di Indonesia memang berbeda dengan perjalanan komik di Amerika Serikat.

Di Indonesia, komik tidak semulus seperti di negara-negara yang menganut paham liberal lainnya. Pada tahun 1955 pemerintah sempat bereaksi terhadap perkembangan komik di Indonesia. Bahkan pernah terjadi pembakaran komik secara besar-besaran karena dianggap terlalu membawa budaya Barat.

Tapi usai reaksi penolakan komik berbudaya barat itu, komik lain tetap hidup. Pada tahun 1956-1963 mulai menjamur komik-komik yang menampilkan tokoh-tokoh dunia perwayangan. RA Kosasih kembali berjaya dengan sejumlah cerita yang dimunculkan seperti Mahabarata dan Ramayana. Pada saat yang sama muncul pula karya-karya lain selain dari karya RA Kosasih, seperti Raden Palasara karya John Lo dan Ulam Sari karya Ardisoma.

Komik Indonesia mengalami masa surut pada tahun 1980-an. Saat itu komik Indonesia boleh dikatakan kalah pamor dengan serbuan komik asing, terutama komik manga dan produk-produk anime dari Jepang. Komik Indonesia juga sulit diproduksi atau mungkin banyak penerbit lebih suka menerbitkan komik impor.

Pada dekade yang sama pula komik sempat mendapat tentangan dari masyarakat. Utamanya karena komik menularkan nilai-nilai kekerasan, seperti kata-kata kasar yang dicantumkan dalam komik, Bedebah!, Jahanam!, Bangsat!. Anak-anak dianggap tidak layak mendapatkan bacaan dengan muatan seperti itu.

Tapi banyak pihak yang kemudian berpendapat bahwa komik memiliki peran yang penting dalam perkembangan anak. Para komikus berpendapat bahwa komik merupakan pijakan awal untuk anak-anak ketika akan melangkah ke buku teks.

Menghilangnya komik lokal ini pun mengakibatkan hilangnya sang superhero lokal. Namun berkaca dari industri superhero di negara-negara lain, seperti AS atau Jepang, superhero sebenarnya tidak kenal media. Dia bisa hidup dimana saja. Hal ini yang mungkin tidak dilakukan maksimal di Indonesia.

Pengarang Jaka Sembung, Djair Warni, dalam sebuah diskusi di Jakarta beberapa waktu lalu pernah menyebut jika harus mendefinisi komik asli Indonesia atau superhero Indonesia akan sulit sekali, karena pada dasarnya apa yang ada di masyarakat (kebudayaan) tidak bsia lepas dari pengaruh asing.

"Tapi komik Indonesia seharusnya bercerita tentang kebudayaan kita. Baik keindahan alam, budaya, termasuk mitos dan legenda, maupun tema-tema sosial berupa kritik terhadap pemerintah. Tidak peduli siapa pembuatnya, yang penting memberikan solusi terhadap masalah yang dilontarkan di dalam kisahnya," tutur Djair.

Salah satu perkembangan komik lokal diusung oleh komunitas Jagoan Comic. Dengan berani, mereka menampilkan tokoh-tokoh baru, tanpa mengulang pamor tokoh jagoan lawas. Pada saat yang sama, ada juga kemunculan tokoh Gina, Gundala dan Godam. Sementara kelompok Neoparadigm mendaur ulang Godam Reborn dan Aquanus.

Jagoan Comic melahirkan banyak jagoan anyar seperti Gunturgen, Blacan, Zantoro, Winda Gang dan Aryageni. Tanpa upaya Jagoan Comic, Indonesia paling- paling hanya memiliki jagoan-jagoan versi daur ulang.


Komikus Muda

Berangkat dari itu banyak komikus muda yang kini menggeliat, bergerilya mengembangkan karya-karya mereka. tersebut nama seperti Chris Lie, Beng Rahardian, Eko Nugroho, Agung Arif Budiman, Alfi Zackyelle, Admiranto Wijayadi, Erfan Fajar hingga komikus wanita Calista Tenou.

Chris Lie sebelumnya banyak mengerjakan proyek-proyek dari Devils' Due Publishing, Archie Comic Publications, Nickelodeon Asia, Cartoon Network Asia, dan Hasbro. Kini ia kembali ke Indonesia mengerjakan proyek idealisnya bersama kawan-kawan di Indonesia, komik Alia.

Admiranto Wijayadi atau biasa dipanggil Anto Garang pun pernah melayani proyek-proyek internasional seperti Avatar, Soul Calibur dan Spiderman. Kini ia tetap mengerjakan proyek idealisnya, komik Agni dan Zantoro.

Selain dua nama itu masih banyak komikus-komikus Indonesia lainnya yang bergerilya dengan caranya sendiri. Disebut bergerilya karena umumnya para komikus menggunakan dunia maya untuk menyebarluaskan karya-karya mereka. Namun dari kegigihan mereka kita bisa optimis bahwa sebentar lagi superhero lokal akan lahir. [K-11]


Home
| Karakter & Komik | Profil | Download | Visi & Misi | Liputan/Berita | Tulisan/Tutorial | Surat Pembaca
Komunitas
| Fans Club
| Ruang Pamer | Links
| Peta Situs | Kontak

All contents ™ and © Jagoan Comic, All Rights Reserved
webhosting by
mwn masterwebnet.com


Halaman Depan Karakter dan Komik Profil Liputan Berita Tulisan & Tutorial Komunitas Visi & Misi Download Peta Situs Kontak Surat Pembaca Links Fans Club Ruang Pamer